Metode Tafsiriyah di Zaman Shahabat Nabi Saw.
Naskah pengantar Al-Qur'anul Karim Tarjamah Tafsiriyah
Sejak awal Islam, metode tafsiriyah dalam memaknai ayat-ayat Al-Qur'an, sudah digunakan oleh para shahabat Nabi Saw. Dalam suatu peristiwa, sekelompok shahabat menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Kepada para shahabat ini Khalifah Abu Bakar bertanya tentang makna istaqaamuu yang terdapat pada ayat 30 surat Fushshilat. Para shahabat itu menjawabnya secara harfiyah, artinya berteguh hati. Akan tetapi jawaban mereka disalahkan oleh Khalifah Abu Bakar ra.
Begitupun ketika beberapa shahabat ditanya oleh Khalifah Umar bin Khaththab, tentang makna beberapa ayat dari Al-Qur'an, yang dijawab secara harfiyah, tetapi disalahkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa shahabat banyak di antara mereka yang memahami makna ayat Al-Qur'an secara harfiyah. Kemudian diluruskan pemahaman mereka itu oleh Khalifah Abu Bakar maupun Umar bin Khaththab, dengan menjelaskan maknanya secara tafsiriyah. Sehingga memaknai ayat-ayat Al-Qur'an secara tafsiriyah, merupakan satu-satunya metode pemaknaan ayat-ayat Al-Qur'an yang benar.
Berikut ini beberapa contoh yang kita nukil dari perkataan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah 'Umar bin Khaththab dalam memaknai beberapa ayat Al-Qur'an:
A. Pemaknaan Khalifah Abu Bakar ra.
1. Surah Fushshilat (41) ayat 30.
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ
Orang-orang mukmin berkata: “Tuhan kami ada lah Allah,” kemudian mereka tidak menyekutukan Allah sedikitpun. Di akhirat kelak para malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Kalian jangan takut dan jangan bersedih. Bergembiralah kalian dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.
Makna harfiyah: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami adalah Allah", kemudian mereka berteguh hati, …"
Kata "istaqaamuu" pada ayat di atas, oleh Abu Bakar dimaknai dengan "mereka tidak menyekutukan Allah sedikitpun", sesuai dengan Atsar yang diriwayatkan oleh 'Abdullah bin Mubarrak, 'Abdur Razaq dan Ibnu Abi Hatim.
Dengan demikian makna yang benar dari ayat di atas adalah: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami adalah Allah", kemudian mereka tidak menyekutukan Allah sedikitpun, …"
2. Surah Al-A'aam (6) ayat 82.
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan tidak mencampur keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka akan mendapatkan keselamatan di akhirat. Mereka akan diberi petunjuk oleh Allah di dunia.
Makna harfiyah: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan tidak mencampur iman mereka dengan kezhaliman, …"
Kata "bizhulmin" pada ayat di atas, oleh Abu Bakar dimaknai dengan "syirik", sesuai Atsar yang diriwayatkan oleh Al-Hakim, Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir.
Sehingga makna yang benar dari ayat di atas adalah: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan tidak mencampur keimanan mereka dengan kesyirikan, …"
B. Pemaknaan Khalifah 'Umar bin Khaththab ra.
1. Surah Al-Hujuraat (49) ayat 3.
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصۡوَٰتَهُمۡ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱمۡتَحَنَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡ لِلتَّقۡوَىٰۚ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٌ عَظِيمٌ
Orang-orang yang merendahkan suara mereka di sisi Rasul Allah adalah orang-orang yang Allah bersihkan hati mereka karena membatalkan keinginannya untuk berbuat dosa demi ketaatannya kepada Allah. Mereka akan mendapatkan pengampunan dan pahala yang besar.
Makna harfiyah: "Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa."
Kalimat "imtahanallaahu quluubahum lit taqwaa" pada ayat di atas, oleh Khalifah 'Umar dimaknai dengan "Allah bersihkan hati mereka karena mereka punya keinginan berbuat dosa, lalu mereka batalkan", sesuai Atsar yang diriwayatkan oleh Ahmad.
Jadi kata "at taqwaa" pada ayat di atas bermakna "membatalkan keinginan untuk berbuat dosa", atau "punya keinginan berbuat dosa, tetapi tidak dilakukan karena ketaatannya kepada Allah".
2. Surah Al-Hujuraat (49) ayat 13.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
Wahai manusia, sungguh Kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling memahami. Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bersih dari syirik. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Mahaluas ilmu-Nya.
Makna harfiyah: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu."
Kata "atqaakum" pada ayat di atas, oleh Khalifah 'Umar dimaknai dengan "orang yang paling bersih dari kesyirikan di antara kalian" sesuai riwayat Ibnu Mardawaih.
Jadi makna yang benar dari ayat di atas adalah: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bersih dari kesyirikan."
Kesimpulan
Pemaknaan ayat-ayat Al-Qur'an oleh Khalifah Abu Bakar dan Khalifah 'Umar ini disebut pemaknaan secara tafsiriyah. Contoh-contoh di atas membuktikan bahwa pemaknaan ayat-ayat Al-Qur'an secara harfiyah tidak benar. Dengan demikian, penerjemahan ayat-ayat Al-Qur'an secara harfiyah juga tidak benar. Sehingga pemaknaan maupun penerjemahan ayat-ayat Al-Qur'an yang benar haruslah secara tafsiriyah.
Wallahu a'lam bish shawab!